Sambutan

Saat ini, perguruan tinggi memasuki era baru yang disebut dengan “Disruptive Innovation”. Semua entitas bisnis, tak kerkecuali Perguruan Tinggi sebagai ‘Noble Industry’, tak bisa lepas dari tantangan era disrupsi. Era disrupsi dalam pendidikan tinggi ditandai dengan masifnya adopsi teknologi informasi, termasuk e-learning, dalam proses belajar mengajar di kelas. Bahkan di banyak negara maju, “Massification of online course” atau “MOOC” telah menjadi trend sehingga banyak kelas-kelas konvensional di perguruan tinggi yang bersifat tatap muka mengalami gulung tikar.

Adopsi e-learning atau pembelajaran dalam jaringan di perguruan tinggi menawarkan banyak manfaat. Pertama, diseminasi informasi ataupun materi pembelajaran dari dosen kepada mahasiswa menjadi lebih cepat dan ‘paperless’. Kedua, keberlangsungan proses belajar mengajar tidak dibatasi oleh ruang dan waktu di kelas. Dosen bisa mengajar dimana saja dan kapan saja kepada mahasiswa.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sebagai sebuah perguruan tinggi yang mengusung visi “Unggul dan Islami” melalui Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) menjadikan era disrupsi ini bukan sebagai ancaman tetapi tantangan. Saat ini, berbagai kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas e-learning sedang digalakkan. Diantara kegiatan yang dilakukan adalah pemberian hibah e-learning dan pelatihan e-learning kepada para dosen. Hibah e-learning digunakan sebagai motivasi bagi para dosen untuk mengadopsi e-learning dari beberapa mata kuliahnya. Pelatihan e-learning digunakan untuk meningkatkan kemampuan dosen dalam membuat konten e-learning yang akan diajarkan kepada mahasiswanya.  Program e-learning para dosen juga dievaluasi dan dimonitoring secara professional untuk memastikan kualitas e-learning yang didesain oleh para dosen. Untuk proyeksi kedepan, Lembaga Pengembangan Pendidikan bekerjasama dengan lembaga lain di lingkungan UMY sedang mengembangan ‘road map’ pengembangan e-learning baik dalam  konteks ‘blended learning’ maupun ‘e-learning’.

Ikhtiar pengembangan e-learning di UMY yang dilakukan oleh LPP berkelindan dengan tugas utama dari lembaga ini sebagai institusi ‘think tank’ yang bertugas untuk membuat cetak biru pengembangan pembelajaran dan pendidikan di universitas, melaksanakan gagasan di lingkung program studi dan melakukan evaluasi dan monitoring atas pelaksanannya. Karena Kurikulum Perguruan Tinggi (KPT) menjadi mandat dari pemerintah, LPP memiliki tanggungjawab agar desain dan pelaksanaannya dapat dilakukan secara optimal.

Selanjutnya, kami meyakini bahwa Kurikulum Perguruan Tinggi dan adopsi teknologi di universitas haruslah bisa saling mendukung, tidak malah saling menegasikan. Dalam KPT, paradigma baru pembelajaran yakni ‘student-centered learning’ diperkenalkan. Pembelajaran dalam jaringanpun sebenarnya memerlukan paradigma ini sehingga nantinya kapasitas teknologi yang memadai harus tetap didukung oleh kemampuan pedagogi yang mumpuni dari para dosen.

Menyambut era disrupsi yang penuh tantangan ini, marilah kita satukan langkah, kokohkan tekad dan samakan visi untuk menjadikan proses pembelajaran dan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi lebih berkualitas sehingga kita bisa menghasilkan para lulusan yang berkualitas dan berdaya saing.