Artikel

MENERAPKAN INSPIRASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

Oleh: Endro Dwi Hatmanto, PhD

Ketika kita bicara tentang pendidikan, biasanya kita ingat deretan nama-nama tokoh dari Barat seperti; Montessori, Ivan Illich, Bloom, Daniel Goleman, Howard Gardner, Margaret Mead, Dewey, Vigotsky, Paulo Frerie dan Bandura. Namun ribuan tahun sebelum tokoh-tokoh ini lahir, Allah telah memberikan inspirasi tentang prinsip-prinsip pendidikan melalui seorang tokoh bernama Luqman:

Prinsip 1: LOVING GOD. Pendidikan harus mendorong peserta didik dan anak-anak kita untuk mencintai Allah, Tuhan semesta. Pendidikan harus membuat siswa dan putra-putri kita semakin dekat kepada Allah, Sang Khalik yang satu dan tidak bersekutu. Inilah tujuan utama (‘the ultimate goal’) dari setiap ikhtiar pendidikan kita. “..yaa bunayya laa tusyrik bilaah…(QS. 31: 13). “Hai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah”, demikian Luqman memberi inspirasi kepada kita.

Prinsip 2: KNOWING THE GOOD and LOVING THE GOOD. Pendidikan diarahkan untuk membantu anak memahami ‘pengetahuan’ dan ‘nilai-nilai moral’ yang membangun karakter. Pengetahuan adalah ‘acquired knowledge’ yang bersandar pada KECERDASAN INTELEKTUAL. Nilai-nilai moral dicapai melalui kepekaan untuk membedakan kebaikan dan keburukan. “…wa’mur bil ma’ruufi wanha ‘anil munkar….(QS. 31: 17). “Suruhlah manusia berbuat baik dan laranglah mereka dari kemungkaran”, demikian inspirasi dari Luqman ketika menasehati anaknya. Kemampuan untuk membedakan baik dan buruk sejatinya adalah pesan-pesan penguatan PENDIDIKAN KARAKTER.

Prinsip 3: DOING THE GOOD. Pendidikan bukan hanya memberdayakan kemampuan intelektual dan moral, namun juga mendorong aksi-aksi nyata dari pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Generasi kita tidak hanya dituntut pintar dalam teori namun pandai dalam membuat aksi nyata. “Hai, anakku, sungguh jika ada kebaikan sebera biji sawi, kemudian tersimpan dalam batu atu di langit maupun di bumi, niscaya Allah akan mendatangkan balasannya” (QS. 31: 16). Inilah sebuah inspirasi bahwa pengetahun harus menghasilkan perilaku dan KOMPETENSI untuk berbuat. Pengetahuan yang didorong oleh inspirasi ini akan menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Prinsip 4: LOVING PEOPLE. “Dan janganlah engkau palingkan pipimu dari manusia” (QS. 31: 18). Inilah dimensi EMOTIONAL INTELLIGENCE pendidikan. Pendidikan harus mendorong peserta didik untuk memiliki sikap rendah hati sekaligus menghargai manusia lain. Rendah hati adalah kemampuan INTRAPERSONAL dimana kita memahami posisi diri kita yang kecil di hadapan Allah dan posisi kita di antara manusia lain. Penghargaan kita kepada manusia lain adalah wujud nyata dari INTERPERSONAL INTELLIGENCE KITA.

Dalam konteks pendidikan tinggipun, konsep-konsep pendidikan yang diilhami oleh Quran ini sangatlah relevan. Hal ini karena kurikulum perguruan tinggi (KPT) dengan jelas memasukkan elemen karakter dan soft skills dalam desain kurikulumnya. Nilai-nilai pedagogi Islam di atas dapat menjadi semacam paradigma teologi sekaligus idelologi sehingga kita bisa memproduksi lulusan yang otaknya mikir, hatinyanya berdzikir dan tangannya terampil.